RSS

6 Pemuda, 3 Sepeda Air, 3 Ikan Bakar

19 Feb

Hari ini, Ahad, 19 Februari 2012. Tubuhku terasa agak lelah setelah rihlah bersama sahabat-sahabatku. Aku dan sahabat-sahabatku menghabiskan waktu bersama untuk menyegarkan fikiran dan mempererat persaudaraan. Akhirnya kami bisa liburan. Kami, 6 pemuda, sudah merencanakan liburan ini beberapa waktu yang lalu. Uang sudah terkumpul selama beberapa bulan dari celengan kami bersama. Seharusnya kami ber-8. Namun, karena ada sesuatu hal, akhirnya kami berangkat ber-6 saja.

Pukul 8 pagi kami sudah janjian untuk berkumpul di meeting point sebelum kami berangkat. Namun, kami baru bisa berangkat sekitar 30 menit kemudian, tentu saja karena faktor karet yang ada di jamku :-) . Sahabatku, Dedy, sudah hadir lebih dulu bersama seorang sahabatku lainnya. Rencananya kami akan berangkat dengan mobil, kebetulan salah satu sahabatku, Edy, bisa menyetir. Sebenarnya aku juga bisa, tapi ku tidak bisa menjamin selamat sampai ke tujuan  mungkin hanya selamat sampai rumah sakit.

Karena tidak ada mobil, kami berangkat menggunakan sepeda motor. Dari titik keberangkatan, kami berempat dengan 2 buah sepeda motor. Selanjutnya 1 sahabat lagi, Hadi, kami jemput di rumahnya di Banjarbaru, tepatnya Landasan Ulin. Dan, sahabat kami yang ke-6, Agus, sudah menunggu kami di perempatan Sekumpul, jalan yang akan membawa kami ke tempat rihlah.

Perjalanan kami biasa-biasa saja; jadi kita lanjutkan hingga kami tiba di tempat rihlah. Tempat itu dikenal dengan nama Bincau, sebuah deretan tambak ikan, yang terletak disisi jalan berseberangan sepanjang irigasi. Tambak ikan ini juga merupakan objek wisata kuliner. Sekitar 2 hingga 3 kilometer menyusuri jalan di tepi irigasi itu terdapat banyak rumah makan, rekreasi, dan pemancingan.

Setelah sampai di pintu masuk kompleks tambak ikan itu, kami harus membayar tiket masuk (seperti bioskop ya?) sebesar Rp2000 per sepeda motor, ada yang keberatan? Lalu kami langsung menuju ke tambak ikan dan juga rumah makan yang paling luas di bandingkan dengan yang lain. Tempat itu ada di deretan pertama dari pintu masuk. Pada awalnya kami berencana memancing ikan di tambak tersebut, sambil menunggu waktu makan siang, karena saat itu baru sekitar pukul 10 pagi. Namun, tampaknya tempat yang kami datangi ini tidak memiliki fasilitas pemancingan.

Setelah melakukan “perundingan”, salah seorang dari kami, Reza, “nekat” bertanya pada penjaga pintu masuk, dimana tempat pemancingannya? Ternyata pemancingannya ada di ujung dari deretan tambak ini. Kami pun segera menghidupkan mesin sepeda motor dan memacunya di jalan yang sudah mulai rusak. Kami terus menyusuri jalan itu tanpa tahu ujungnya ada dimana, mungkin saja 50 kilometer lagi baru sampai ke ujung. Untunglah tidak sejauh itu. Sekitar 2 kilometer kemudian kami melewati sebuah tempat pemancingan yang tampaknya tidak menarik untuk disinggahi, karena belum sampai ke ujung kompleks tambak itu, kami teruskan hingga benar-benar sampai di ujung, tertera papan petunjuk tempat pemancingan yang mengarah ke kiri. Namun, karena tampaknya tempat itu tidak lebih menarik dari tempat pemancingan yang telah kami lewati sebelumnya. Kemudian kami pun memutuskan kembali ke pemancingan yang pertama tadi.

Di tempat pemancingan itu kami tidak melihat ada orang lain yang sedang memancing. Memang terdapat kolam yang cukup besar di bagian depan, dengan beberapa sepeda air mengapung-ngapung, tampak ikan nila berenang-renang menunggu kepastian nasibnya yang akan berakhir di penggorengan atau pembakaran ikan.

Ada seorang pemuda di tempat parkir pemancingan itu, ia tampak senang dengan kedatangan kami. Mungkin kami adalah pelanggan pertama pagi itu dan bisa jadi “penglaris”. Edy mencoba memastikan bahwa kami bisa memancing disana. Ya, jawab pemuda itu. Kemudian dia balik bertanya, apakah kami membawa alat pancingnya. Oh tidak…., kami tidak membawa sebatang joran pun untuk memancing, bagaimana memancing tanpa joran? Mungkin yang bisa kami lakukan adalah “memancing” keributan. Sambil berbisik, sebaiknya pihak pengelola pemancingan itu juga menyiapkan pancing. Jadi, pengunjung yang datang dari tempat nun jauh disana, tidak perlu repot-repot membawa joran sendiri. Kami memutuskan untuk kembali ke tambak yang pertama kami datangi tadi. Karena kalau kami ke tempat ini hanya untuk makan, tempatnya tidak terlalu luas dan tampaknya kurang mengasikkan. Untuk bermain sepeda air pun, kolamnya masih kalah luas.

Kami kembali ke depan, dan memesan tempat makan di tambak yang luas tadi. Sambil menunggu menu makan siang kami, yang rencananya akan diantarkan pukul 12 siang. Saat itu baru sekitar pukul 10.30. Setelah makanan dipesan, kami semua berkumpul di tempat makan yang mungkin bisa disebut sakadomas mini. Tambak ini memiliki kompleks ruang makan lesehan dengan berbagai ukuran sesuai dengan jumlah orang yang makan di tempat itu. Karena biasanya orang-orang datang dalam satu rombongan “hanya” untuk makan, berenang, dan atau mengayuh sepeda air.

Kami memilih tempat makan yang terletak di permukaan kolam yang paling luas yang juga menjadi arena bermain sepeda air. Setelah kami, 6 pemuda, berkumpul di tempat makan itu, kami pun mengawali kegiatan rihlah dengan basmallah dan tilawah. Kemudian es teh manis datang lebih dulu untuk menemani kami menunggu menu utama yang masih sekitar 1 jam lagi. Sementara menunggu menu makan siang, kami sepakat untuk mencoba sepeda air terlebih dulu. Dermaga sepeda air itu terletak di sisi lain dari kolam. Kami membayar Rp10.000 untuk setiap sepeda dan dapat dipakai selama 30 menit. Kami, langsung naik ke sepeda air yang telah terparkir mengapung di tepi dermaga itu, aku dan Hadi memilih sepeda air berbentuk angsa berwarna pink. Edy dan Reza memilih sepeda yang berwarna biru, tapi ku lupa bentuknya binatang apa. Dedy dan Agus, mengayuh seekor kuda laut yang berwarna kuning tua.

Kami mengayuh sepeda dengan penuh semangat. Edy mengajak kami balapan. Di race pertama
kami kalah karena belum terbiasa mengemudikan sepeda air ini. Dan ini adalah kali pertama aku naik sepeda air, selama lebih dari 24 tahun aku hidup. Kami mengayuh sepeda dengan tenaga penuh yang ternyata hanya bertahan beberapa menit dari titik start. Ternyata mengayuh sepeda air untuk balapan benar-benar melelahkan. Setelah sampai di sisi terjauh dari kolam, kami kembali mengatur posisi untuk race ke-2, tidak lupa berfoto dulu . Di race ke-2 ini kami juga kalah, tampaknya Edy dan Reza menjadi pasangan tercepat. Namun, di race ke-3 kami bisa mengalahkan Edy dan Reza dengan selisih jarak cukup jauh, sedangkan Dedy dan Agus di tempat ke-3; setelah kami dapat menguasai teknik khusus untuk mengendalikan arah dari sepeda ini, dan sedikit ‘curi start’. Edy tampak kelelahan, tapi Reza tampak segar bugar. Ternyata yang banyak menghabiskan tenaga untuk mengayuh adalah Edy, sementara Reza dengan cerdas mengikuti irama kayuhan pedal sepeda air itu :-) .

Beberapa menit kemudian kami masih mengapung di kolam itu, aku dan Hadi bergerak menyusuri tepi kolam menuju ke deretan sakadomas. Kulihat dari kejauhan menu makan siang kami sudah tersedia. Kami segera kembali ke dermaga, dengan tersengal-sengal, keringat bercucuran, dan menahan rasa pegal di sekujur kaki. 

Setelah beristirahat sejenak, kami pun mulai makan siang. Benar-benar kombinasi yang mantap, setelah lelah bersepeda, ditambah lagi aku belum sarapan, rasanya nikmat sekali bisa makan saat itu. Menu yang kami nikmati terdiri dari lalapan sayur-sayuran, kemudian ada sayur bening dan sayur asam, dan tentu saja menu utamanya 3 ekor ikan nila bakar. 1 ekor ikan untuk berdua karena ukurannya cukup besar. Selesai makan dengan lahap, walaupun tampaknya Edy adalah yang paling lahap makannya, ku bermain-main dengan ikan di kolam itu, sambil duduk setelah makan, ku ulurkan tanganku ke kolam, dan langsung disambut oleh ikan-ikan nila dengan berbagai ukuran, untunglah tanganku belum ‘matang’, jadi tetap utuh.

 

 

 

 

 

Kami bersiap-siap kembali ke Banjarmasin, waktu sholat Zuhur sudah hampir tiba, kami berencana sholat di mesjid atau musholla yang kami temui dalam perjalanan pulang. Kami menyusuri jalan sama hingga Edy berhenti mendadak dengan posisi sepeda motor melintang di tengah jalan, ku terkejut, tampak ada sedikit kemacetan. Seorang pengendara yang berada di depanku tampak agak tidak menyukai situasi itu, untung saja kami tidak berkendara dalam kecepatan tinggi. Edy membelok mendadak ke arah musholla di seberang jalan. Sholat Zuhur baru saja selesai, kami sholat berjamaah sendiri, kami memilih Agus menjadi imam.

Selesai sholat, ku langsung tersadar bahwa kunci sepeda motorku masih tertancap di kunci jok, untuk yang kedua kalinya setelah tadi saat di Bincau ku juga lupa mencabut kunci sepeda motorku. Alhamdulillah, sepeda motorku masih terparkir dengan aman. Aku memang sering lupa melepaskan kunci sepeda motorku, kebiasaan yang harus dihilangkan. Setelah kami semua keluar dari musholla, Edy tampak bingung karena sepatunya hilang 1, berpasangan dengan sepatu Dedy yang juga hilang 1. Kami bingung, saling menduga ada teman yang iseng, Agus yang tadi keluar lebih dulu menjadi tersangka, tapi ku yakin Agus tidak bersalah. Kemudian Reza, senyumnya membuat Edy yakin Reza yang menyembunyikannya. Lalu, dengan santai sambil tersenyum, Dedy membuka jok sepeda motornya dan mengeluarkan pasangan sepatu yang lainnya. Ternyata Dedy telah menyembunyikannya untuk mencegah orang-orang yang ‘tertarik’ untuk ‘mengoleksi’ sepatu di musholla atau masjid mengambil sepatu itu, nice trick.

Aku menawarkan untuk menambah rute perjalanan pulang kami, ku ajak mereka mampir ke rumahku di LA. Sahabat-sahabatku setuju, tapi Agus tidak bisa bergabung dengan kami, karena ia harus kembali pulang. Sebelum pulang, kami menyempatkan foto bareng, walaupun sebenarnya akan lebih asik jika kami melakukannya saat di Bincau tadi, tapi ku lupa.

Kami melanjutkan perjalanan menuju rumahku, yang kebetulan juga satu jalur menuju Banjarmasin, hanya saja jaraknya sedikit lebih jauh. Kami tiba di rumahku sekitar pukul 2 sore. Kami beristirahat sekitar 45 menit sambil menikmati es kelapa muda yang disiapkan oleh ibuku, kelapa muda milik kami sendiri. Setelah beristirahat, kami segera melanjutkan perjalanan ke Banjarmasin. Sekitar 12 kilometer kemudian, kami berpisah dengan Hadi, karena rumahnya di Landasan Ulin. Tinggallah kami berempat yang pulang ke Banjarmasin. Sesampainya di tengah kota, aku dan Reza mengambil jalan pulang berbeda dengan Edy dan Dedy, karena ada tempat yang ingin di singgahi. Terlebih dulu kami sholat Ashar di masjid Al Ikhwan di Jl. Veteran, kemudian segera menuju ke sebuah distro. Selesai window shopping, kami segera pulang menuju meeting point untuk mengambil sepeda motor Reza. Di sana kami berpisah dan pulang ke tempat masing-masing.

Cerita yang cukup panjang untuk perjalanan kurang dari 1 hari. Semoga nanti kita bisa berkumpul lagi dan merangkai kisah yang lebih indah.

About these ads
 
7 Comments

Posted by on February 19, 2012 in Recent Stories

 

Tags: , , , , ,

7 Responses to 6 Pemuda, 3 Sepeda Air, 3 Ikan Bakar

  1. Dedy

    February 20, 2012 at 6:03 am

    Keren ceritanya euy.
    Kelapa mudanya nikmat banget, kayanya ana yg paling byk minum, hehe
    Kapan2 kita rihlah lagi yaa sahabat2ku :-)

     
    • dreams4lives

      February 20, 2012 at 6:08 am

      Sip sip, insya ALLAH nanti kita bisa ajak lebih banyak orang lagi…. :-)

       
  2. nolkosong

    February 22, 2012 at 12:02 pm

    ada yg kurang: 300rb~

     
  3. nolkosong

    February 23, 2012 at 12:24 am

    nuansa angka 3

     
    • dreams4lives

      February 23, 2012 at 12:30 am

      wah, kalo ditambahi 300 jadi kebanyakan angkanya. :-)

      Sharing link blog donk bro :-)

       
    • dreams4lives

      February 23, 2012 at 12:31 am

      kada ingat lagi apa namanya tu kemarin…

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: